A. Latar Belakang Sejarah
Masyarakat yang hidup di kawasan perbatasan Kabupaten Sintang ?Serawak sebagian besar adalah keturunan Suku Dayak. Pada bagian wilayah yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sintang (Indonesia) suku Dayak tersebut dapat dikelompokan menjadi: Dayak Iban, Dayak Desa, Dayak Sebaruk dan Bugau.
Sejak ratusan tahun yang lalu kawasan perbatasan merupakan suatu daerah interaksi yang penting dan dinamis antara dua kebudayaan masyarakat yang bercorak Melayu dan berbagai kelompok suku bangsa Dayak. Salah satu indikatornya adalah banyaknya terjadi perkawinan silang (amalgasi) antara dua corak kebudayaan tersebut. Laju mobilisasi penduduk antar daerah di kawasan ini pun cukup tinggi sejak ratusan tahun yang lalu.
Dalam perjalanan sejarah, kawasan perbatasan telah memberikan warna tersendiri bagi tegaknya kedaulatan NKRI. Pada saat konfrontasi dengan Malaysia dan penumpasan PGRS/PARAKU, masyarakat di kawasan perbatasan sangat banyak mengorbankan harta benda dan jiwa demi tegaknya NKRI. Namun pengorbanan ini dirasakan belum sebanding jika disejajarkan dengan minimnya alokasi pembangunan yang dirasakan masyarakat perbatasan.
Pada awalnya, rata-rata penduduk pada Negara Bagian Serawak mencari kerja ke Wilayah Indonesia. Namun seiring dengan percepatan proses pembangunan pada Negara Bagian Serawak yaitu sarana transportasi dan infrastruktur dasar lainnya, saat ini justru penduduk dari wilayah Indonesia yang banyak bekerja ke Negara Bagian Serawak.
B. Geografi
Kawasan Perbatasan Kabupaten Sintang yang meliputi 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Ketungau Hulu dan Kecamatan Ketungau Tengah. terletak di bagian Utara Kabupaten Sintang. Luas Kawasan Perbatasan Kabupaten Sintang 4.320,60 Km2 atau 13,39 % dari luas Kabupaten Sintang. Secara rinci luas kawasan perbatasan sebagaimana pada Tabel 1 berikut ini.
|
Tabel.II.1. |
Luas Kecamatan Yang Berbatasan Langsung Dengan Negara Bagian Serawak (Malaysia Timur) |
|
No. |
Kecamatan |
Luas (Km2) |
|
1. |
Ketungau Hulu |
2.138,20 |
|
2. |
Ketungau Tengah |
2.182,40 |
|
|
Jumlah |
4.320,60 |
Batas-batas administrasi Wilayah Perbatasan adalah secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
|
Tabel.II.2. |
Batas Kecamatan Yang Berbatasan Langsung Dengan Negara Bagian Serawak (Malaysia Timur) |
|
No |
Kecamatan |
Utara |
Timur |
Selatan |
Barat |
|
1. |
Ketungau Hulu |
Malaysia Timur (Sarawak) |
Kec. Ket. Tengah |
Kec. Ket. Tengah |
Kab. Sanggau |
|
2. |
Ketungau Tengah |
Malaysia Timur (Sarawak) |
Kab.Kapuas Hulu dan Kecamatan Ket. Hilir |
Kab.Sanggau dan Kec. Ket. Hilir |
Kab.Sanggau Kecamatan Ket. Hulu |
Sepanjang Kawasan Perbatasan Kabupaten Sintang kondisinya masih berupa hutan. Adapun hutan tersebut memiliki fungsi sebagai kawasan penyangga, hutan lindung dan resapan air. Keadaan topografi di Kawasan Perbatasan bervariasi, yaitu berupa dataran, perbukitan dan pegunungan. Dilihat dari kemiringan lahannya, sebagian besar Kawasan Perbatasan terdiri dari lahan datar, yaitu. 218.016 Ha atau 50,46 % dari luas Kawasan Perbatasan.
C. Pemerintahan.
Kawasan Perbatasan Kabupaten Sintang terdiri dari 22 Desa dan 79 Dusun. dengan pusat pengembangan di Kecamatan Ketungau Tengah. Jarak ibukota Kecamatan pada kawasan Perbatasan ke Ibukota Kabupaten Sintang bervariasi. Secara rinci ibu kota, jumlah desa dan dusun serta jarak ibukota kecamatan adalah pada Tabel 3 berikut ini.
|
Tabel.II.3. |
Ibu Kota, Desa dan Dusun serta Jarak Ibukota Kecamatan Kawasan Perbatasan ke Ibukota Kabupaten Sintang |
|
No. |
Kecamatan |
Ibukota |
Desa |
Dusun |
Jarak ke Ibukota Kab. (Km) |
|
1. |
Ketungau Hulu |
Senaning |
9 |
28 |
198 |
|
2. |
Ketungau Tengah |
Nanga Merakai |
13 |
51 |
107 |
|
|
Jumlah |
22 |
79 |
|
Dari 22 desa di Kawasan Perbatasan terdapat 7 desa yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia, yakni: Desa Wana Bakti dan Desa Gut Jaya Bakti di wilayah Ketungau Tengah, Desa Nanga Bayan, Desa Jasa, Desa Rasau, Desa Senaning dan Desa Sungai Seria di wilayah Kecamatan Ketungau Hulu .
D. Demografi
Pada Tahun 2003 jumlah penduduk di Kawasan Perbatasan adalah 43.052 orang, yang terdiri dari 25.135 orang laki-laki dan 17.917 orang perempuan serta 9.461 Kepala Keluarga. Secara rinci Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga di Kawasan Perbatasan adalah pada Tabel 4 berikut ini.
|
Tabel.II.4. |
Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No. |
Kecamatan |
Penduduk |
Kepala Keluarga |
|
Laki-laki (L) |
Perempuan (P) |
L + P |
|
1. |
Ketungau Hulu |
9.172 |
8.745 |
17.917 |
3.801 |
|
2. |
Ketungau Tengah |
12.962 |
12.173 |
25.135 |
5.660 |
|
Jumlah |
22.134 |
20.918 |
43.052 |
9.461 |
Jika dibandingkan dengan luas wilayah secara keseluruhan, kepadatan penduduk di Kawasan Perbatasan adalah 9 jiwa per-Km2.
E. Sosial Kemasyarakatan
Bidang sosial kemasyarakatan mencakup beberapa aspek, yaitu pendidikan, kesehatan dan keluarga berencana, keamanan serta kehidupan beragama. Gambaran Kawasan Perbatasan dilihat dari aspek tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan.
Keberhasilan proses pendidikan tergantung dari beberapa faktor antara lain tersedianya sarana, prasarana pendidikan dan tenaga pengajar yang memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Jumlah sarana pendidikan di Kawasan Perbatasan tahun 2003 adalah TK 2 buah, SD 51 buah, SLTP 9 buah dan SLTA 1 buah. Secara rinci sarana pendidikan di Kawasan Perbatasan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.
|
Tabel.II.5. |
Sarana Pendidikan Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003
|
|
No. |
Kecamatan |
TK |
SD |
SLTP |
SLTA |
|
S |
N |
S |
N |
S |
N |
S |
N |
|
1 |
Ketungau Hulu |
- |
- |
- |
22 |
1 |
1 |
- |
- |
|
2 |
Ketungau Tengah |
1 |
- |
2 |
27 |
4 |
3 |
- |
1 |
|
Jumlah |
2 |
- |
2 |
49 |
5 |
4 |
- |
1 | Keterangan: S = swasta, N = negeri.
Sedangkan jumlah tenaga pengajar/guru di Kawasan Perbatasan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini.
|
Tabel.II.6. |
Jumlah Tenaga Pengajar (Guru) di Kawasan Perbatasan
|
|
No |
Kecamatan |
Jumlah |
Jumlah |
Jumlah |
Jumlah |
|
TK |
TP |
SD |
TP |
SLTP |
TP |
SLTA |
TP |
|
1. |
Ketungau Hulu |
- |
1 |
22 |
94 |
1 |
17 |
- |
- |
|
2. |
Ketungau Tengah |
1 |
1 |
27 |
161 |
2 |
53 |
1 |
19 |
|
Jumlah |
1 |
2 |
49 |
255 |
3 |
60 |
1 |
19 |
Keterangan: TP = Tenaga Pengajar
2. Kesehatan
Jumlah fasilitas kesehatan di Kawasan Perbatasan tahun 2003 adalah 40 buah. Secara rinci fasilitas kesehatan tersebut tertera pada Tabel 7 berikut ini.
|
Tabel.II.7. |
Fasilitas Kesehatan Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003
|
|
No. |
Kecamatan |
Puskesmas |
Pustu |
Puskesmas Keliling |
Polindes |
Jumlah |
|
Dengan Rawat Inap |
Tanpa Rawat
Inap |
Darat |
Air |
|
1. |
Ketungau Hulu |
1 |
- |
7 |
- |
1 |
9 |
18 |
|
2. |
Ketungau Tengah |
1 |
- |
7 |
- |
1 |
13 |
22 |
|
Jumlah |
2 |
- |
14 |
- |
2 |
22 |
40 |
Sedangkan jumlah tenaga kesehatan di Kawasan Perbatasan tahun 2003 tersaji pada Tabel 8 berikut ini.
|
Tabel.II.8. |
Fasilitas Kesehatan Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003
|
|
No. |
Kecamatan |
Tenaga
Medis/
Dokter |
Para Medis |
Non Medis
|
Jumlah |
|
Perawat |
Non Perawat |
Pembantu Perawat |
|
1 |
Ketungau Hulu |
- |
7 |
- |
4 |
1 |
12 |
|
2 |
Ketungau Tengah |
2 |
12 |
- |
5 |
3 |
22 |
|
Jumlah |
2 |
19 |
- |
9 |
4 |
34 |
3. Agama
Penggolongan penduduk menurut agama di Kawasan Perbatasan dapat dilihat pada Tabel 9 sebagai berikut.
|
Tabel.II.9. |
Penggolongan Penduduk Menurut Agama Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No. |
Kecamatan |
Islam |
Khatolik |
Protestan |
Hindu |
Budha |
Jumlah |
|
1. |
Ketungau Hulu |
3.765 |
7.335 |
8.601 |
- |
- |
17.917 |
|
2. |
Ketungau Tengah |
2.404 |
9.384 |
11.487 |
- |
- |
25.135 |
|
Jumlah |
6.169 |
16.719 |
20.088 |
- |
- |
43.052 |
Sedangkan sarana ibadah di Kawasan Perbatasan tahun 2003 berjumlah 106 buah. Secara rinci sarana ibadah di Kawasan Perbatasan tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini.
|
Tabel.II.10. |
Sarana Ibadah Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003
|
|
No |
Kecamatan |
Islam |
Khatolik |
Protestan |
Budha |
Jumlah |
|
Masjid |
Surau |
Gereja |
Kapel |
Gereja |
Wihara |
|
1. |
Ketungau Hulu |
5 |
1 |
21 |
8 |
24 |
1 |
60 |
|
2. |
Ketungau Tengah |
3 |
0 |
1 |
10 |
32 |
- |
46 |
|
Jumlah |
8 |
1 |
22 |
18 |
56 |
1 |
106 |
F. Sosial Ekonomi
1. Perindustrian
Pada Tahun 2003 Perusahaan/Usaha Industri Kecil dan Menengah Di Kawasan Perbatasan berjumlah 95 buah. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini.
|
Tabel.II.11. |
Jumlah Perusahaan / Usaha Industri Kecil Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No |
Kecamatan |
Formal |
Non Formal |
Jumlah |
|
IHPK |
ILMK |
IHPK |
ILMK |
|
1 |
Ketungau Hulu |
- |
- |
55 |
- |
55 |
|
2 |
Ketungau Tengah |
- |
- |
20 |
20 |
40 |
|
|
Jumlah |
- |
- |
75 |
20 |
95 |
2. Perdagangan
Perdagangan merupakan salah satu sektor yang memegang peranan cukup penting dalam perekonomian di Kawasan Perbatasan. Jumlah pedagang di Kawasan Perbatasan tahun 2003 adalah 137 orang, yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 12 berikut ini.
|
Tabel.II.12. |
Jumlah Pedagang Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003
|
|
No. |
Kecamatan |
Jumlah Pedagang |
|
1 |
Ketungau Hulu |
62 |
|
2 |
Ketungau Tengah |
75 |
|
|
Jumlah |
137 |
3. Perkoperasian
Pada Tahun 2003 jumlah Koperasi Unit Desa (KUD) di Kawasan Perbatasan adalah 2 buah. Secara rinci jumlah KUD, anggota dan volume usaha KUD di Kawasan Perbatasan dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ini.
|
Tabel.II.13. |
Jumlah KUD, Anggota Dan Volume Usaha
Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
Sedangkan banyaknya Koperasi Non-KUD di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 adalah 6 buah, yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.
|
Tabel.II.14. |
Jumlah Koperasi Non-KUD, Anggota dan Volume Usaha Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No |
Kecamatan |
Koperasi Non-KUD |
Anggota |
Volume Usaha ( 000 Rp) |
|
1 |
Ketungau Hulu |
3 |
70 |
185.400 |
|
2 |
Ketungau Tengah |
3 |
69 |
170.180 |
|
Jumlah |
6 |
139 |
355.580 |
G. Sumber Daya Alam
1. Pertanian
Produksi padi sawah di Kawasan Perbatasan tahun 2003 berjumlah 2.143 Ton, yang terbanyak adalah di Kecamatan Ketungau Hulu yakni 1.171 Ton. Luas panen, rata-rata produksi dan produksi padi sawah di Kawasan Perbatasan tahun 2003 tertera pada Tabel 15 berikut ini.
|
Tabel.II.15. |
Luas Panen, Rata-rata Produksi dan Produksi
Padi Sawah Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
Sedangkan produksi padi ladang di Kawasan Perbatasan adalah 4.768 Ton. Luas panen, rata-rata produksi dan produksi padi ladang di Kawasan Perbatasan tahun 2003 secara rinci dapat dilihat pada Tabel 16 berikut ini.
|
Tabel.II.16. |
Luas Panen, Rata-rata Produksi dan Produksi Padi Ladang Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No. |
Kecamatan |
Luas Panen
(Ha) |
Rata-rata produksi (Kuintal/Ha) |
Produksi (Ton) |
|
1. |
Ketungau Hulu |
1.518 |
15,63 |
2.372 |
|
2. |
Ketungau Tengah |
1.538 |
15,58 |
2.396 |
|
Jumlah |
3.056 |
31,21 |
4.768 |
2. Perkebunan.
Pengembangan sub sektor perkebunan di Kawasan Perbatasan antara lain meliputi tanaman karet, kelapa sawit, kelapa dalam, lada dan lain sebagainya. Produksi jenis tanaman perkebunan terbesar di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 adalah karet yakni 2.062 Ton terutama di Kecamatan Ketungau Hulu. Untuk lebih jelasnya perkembangan tanaman karet di Kawasan Perbatasan tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 17 berikut ini.
|
Tabel.II.17. |
Luas Areal, Produksi dan Jumlah Petani
Perkebunan Komoditi Karet Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No |
Kecamatan |
Luas Areal Menurut Komposisi Tanaman (Ha) |
Total Luas Areal (Ha.) |
Jumlah Petani
(KK) |
Jumlah Produksi (Ton) |
|
Tanaman Muda |
Tanaman Menghasilkan |
Tanaman Tua |
|
1 |
Ket. Hulu |
678 |
1.268 |
378 |
2.324 |
1.257 |
1.179 |
|
2 |
Ket. Tengah |
1.844 |
973 |
253 |
3.070 |
1.561 |
883 |
|
|
Jumlah |
2.522 |
2.241 |
631 |
5.394 |
2.818 |
2.062 |
Produksi tanaman Kelapa Dalam di Kawasan Perbatasan tahun 2003 sebanyak 43 Ton, yang terbesar di Kecamatan Ketungau Hulu sebanyak 22 Ton. Secara rinci tanaman kelapa dalam di Kawasan Perbatasan dapat dilihat pada Tabel 18 berikut ini.
|
Tabel.II.18. |
Luas Areal, Produksi dan Jumlah Petani Perkebunan Komoditi Kelapa Dalam Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No |
Kecamatan |
Luas Areal Menurut Komposisi
Tanaman (Ha) |
Total Luas Areal
(Ha.) |
Jlh Petani
(KK) |
Jumlah Produksi (Ton) |
|
Tanaman Muda |
Tanaman Menghasilkan |
Tanama Tua |
|
1 |
Ket. Hulu |
168 |
164 |
160 |
462 |
154 |
241 |
|
2 |
Ket. Tengah |
58 |
79 |
7 |
144 |
38 |
142 |
|
|
Jumlah |
226 |
243 |
167 |
606 |
192 |
383 |
Produksi tanaman Lada di Kawasan Perbatasan tahun 2003 adalah 383 Ton, yang terbesar di Kecamatan Ketungau Hulu sebanyak 241 Ton. Secara rinci tanaman Lada di Kawasan Perbatasan dapat dilihat pada Tabel 19 berikut ini.
|
Tabel.II.19. |
Luas Areal, Produksi dan Jumlah Petani Perkebunan Komoditi Lada
Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No |
Kecamatan |
Luas Areal Menurut Komposisi Tanaman (Ha) |
Total Luas Areal
(Ha.) |
Jumlah Petani
(KK) |
Jumlah Produksi (Ton) |
|
Tanaman Muda |
Tanaman Menghasilkan |
Tanaman Tua |
|
1 |
Ket. Hulu |
168 |
164 |
160 |
462 |
154 |
241 |
|
2 |
Ket. Tengah |
58 |
79 |
7 |
144 |
38 |
142 |
|
|
Jumlah |
226 |
243 |
167 |
606 |
192 |
383 |
3. Peternakan dan Perikanan.
Pada tahun 2003 di Kawasan Perbatasan terdapat ternak berjumlah 19.144 ekor, yang terdiri dari Ternak Besar berjumlah 1.176 ekor, sedangkan Ternak Kecil berjumlah 17.968 ekor. Jumlah ternak terbanyak terdapat di Kecamatan Ketungau Tengah, yakni 11.117 ekor, yang didominasi oleh ternak Babi. Secara rinci populasi ternak di Kawasan Perbatasan dapat dilihat pada Tabel 20 berikut ini.
|
Tabel.II.20. |
Populasi Ternak Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003
|
|
No. |
Kecamatan |
Ternak Besar (Ekor) |
Ternak Kecil (Ekor) |
Jumlah |
|
Sapi |
Kerbau |
Babi |
Kambing |
|
1. |
Ketungau Hulu |
416 |
- |
6.291 |
1.320 |
8.027 |
|
2. |
Ketungau Tengah |
760 |
- |
8.973 |
1.384 |
11.117 |
|
Jumlah |
1.176 |
- |
15.264 |
2.704 |
19.144 |
Selain jenis ternak besar dan ternak kecil, terdapat juga ternak Unggas. Polulasi ternak Unggas di Kecamatan Kawasan Perbatasan tahun 2003 berjumlah 83.035 ekor, yang terdiri dari Ayam Buras dan Itik. Sementara itu budidaya perikanan di Kawasan Perbatasan meliputi perairan umum, kolam dan keramba. Areal budidaya perikanan terluas adalah perairan umum, yakni 21.603 Ha. Untuk lebih jelasnya luas areal menurut jenis areal budidaya dapat dilihat pada Tabel 21 berikut ini.
|
Tabel.II.21. |
Luas Areal, Budidaya Perikanan Menurut Jenis
Areal Budidaya Di Kawasan Perbatasan
Tahun 2003 ( Dalam Ha. ) |
Sedangkan jumlah terbesar produksi ikan menurut jenis produksi terdapat di Kecamatan Ketungau Hilir yakni 183 Ton, yang terdiri dari jenis produksi perairan umum, budidaya dan ikan awetan. Secara jelas dapat dilihat pada Tabel 22 berikut ini.
|
Tabel.II.22. |
Produksi Ikan Menurut Jenis Produksi Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 |
|
No. |
Kecamatan |
Perairan Umum (Ton) |
Budidaya (Ton) |
Ikan Awetan (Ton) |
|
1 |
Ketungau Hulu |
85 |
16 |
- |
|
2 |
Ketungau Tengah |
155 |
28 |
- |
|
|
Jumlah |
240 |
44 |
- |
4. Pariwisata
Obyek-obyek wisata yang perlu diintegrasikan pengembangannya dalam upaya pengembangan Kawasan Perbatasan antara lain adalah keberadaan sejumlah air terjun dan sumber air panas, yaitu :
1). Di Kecamatan Ketungau Tengah:
a). Sumber air panas di Desa Sumber Sari
b). Air Terjun Uong Layang ( 30 M )
c). Air Terjun Uong Dau (30 M)
d). Air Terjun Uong Langit (30 M)
e). Air Terjun Uong Tapah (15 M)
f). Air Terjun Uong Sawak ( 25 M )
g). Air Terjun Uong Lembah Sibau ( 20 M )
h). Air Terjun Uong Pancur ( 100 M )
i). Air Terjun Uong Telaga Badag ( 20 M )
2). Di Kecamatan Ketungau Hulu:
a). Air Terjun Bukit Kubuh (27 M)
b). Jeram Bayan dan Jeram Kumbu di Desa Senaning
c). Jeram Lingkung di Desa Rasau.
d). Jeram Jerup, Jeram Sungai Udang dan Jeram Sungai Semawang di Desa Jasa.
e). Jeram Empeliau dan Jeram Telaga di Desa Nanga Bayan.
f). Puncak Rabung di Desa Suak Medang.
g). Gua Janik di Desa Ng. Bayan.
5. Pertambangan
Ada enam jenis bahan tambang di Kawasan Perbatasan, secara rinci dapat dilihat pada Tabel 23 berikut ini.
|
Tabel.II.23. |
Jenis Bahan Tambang Di Kawasan Perbatasan |
6. Kehutanan
Luas kawasan hutan di Kawasan Perbatasan dapat dilihat pada Tabel 24 berikut ini.
|
Tabel.II.24. |
Luas Kawasan Hutan Di Kawasan Perbatasan Tahun 2003 (Dalam Ha) |
H. Permasalahan Umum Kawasan Perbatasan
Masalah utama yang dihadapi di Kawasan Perbatasan adalah sebagai berikut:
1. Bidang Transportasi dan Sarana Prasarana Wilayah lainnya.
Pada umumnya kondisi Kawasan Perbatasan masih mengalami keterisolasian dan keterpencilan, yang disebabkan masih sangat minimnya sarana dan prasarana transportasi baik darat maupun sungai. Selain itu minimnya prasarana dasar lainnya seperti listrik, telepon dan lain-lain, sementara Ketungau Hulu akan dijadikan Kawasan Khusus dan Pintu Gerbang (Gate) antar Negara.
2. Bidang Pendidikan
Masyarakat di Kawasan Perbatasan pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah. Selain itu minimnya sarana dan prasarana pendidikan, terbatasnya tenaga pengajar baik kualitas maupun kuantitasnya dan relatif mahalnya biaya untuk memperoleh pendidikan.
3. Sikap dan persepsi masyarakat
Sebagaimana telah dijelaskan di depan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat di kawasan perbatasan telah memberikan warna tersendiri bagi tegaknya kedaulatan NKRI. Pada saat konfrontasi dengan Malaysia dan penumpasan PGRS/PARAKU di era Orde Lama, masyarakat di kawasan perbatasan sangat banyak mengorbankan harta benda dan jiwa demi tegaknya NKRI. Hal ini tentunya menimbulkan trauma yang berkepanjangan pada masyarakat perbatasan. Persoalan tersebut semakin terasa, ketika dalam proses pelaksanaan pembangunan Orde Baru, sumber-sumber daya alam yang ada dikuras dan dieksploitasi dengan janji-janji untuk kemakmuran masyarakat setempat. Namun ternyata janji-janji tersebut tidak pernah terealisasi. Pada era reformasi ini pun kondisi tersebut tidak banyak berbeda, pengorbanan yang mereka berikan dirasakan belum sebanding jika disejajarkan dengan minimnya alokasi pembangunan yang dirasakan masyarakat perbatasan.
Pengalaman-pengalaman masa lalu tersebut tentunya menimbulkan sikap dan persepsi masyarakat yang cenderung berprasangka negatif terhadap segala bentuk program dan kebijakan yang akan dilakukan baik oleh pemerintah maupun dunia usaha.
4. Bidang Ekonomi
Pada bidang ekonomi ini ditandai dengan suasana kehidupan masyarakat yang diliputi rendahnya taraf kesejahteraan masyarakat terutama jika dibandingkan dengan kesejahteraan masyarakat negara tetangga. Orientasi ekonomi masyarakat pada kawasan tapal batas cenderung dominan pada negara tetangga Malaysia, hal ini disebabkan wilayah negara tetangga tersebut lebih mampu memberikan kontribusi perkembangan sektor perekonomian karena kelancaran proses perdagangan dan fasilitas lainnya yang dapat mengakomodasikan masyarakat perbatasan. Berkaitan dengan bidang ekonomi, kegiatan masyarakat di bidang koperasi, usaha kecil dan menengah serta perdagangan belum berkembang sebagaimana yang diharapkan. Dalam hal ini masih terdapat Koperasi yang sudah dibentuk, akan tetapi tidak aktif. Belum semua jenis usaha termasuk perdagangan memiliki perizinan. Demikian juga kegiatan lain yang menunjang perkembangan sektor perekonomian masyarakat di Kawasan Perbatasan seperti pertanian (tanaman pangan, holtikultura, perikanan dan perternakan) dan perkebunan belum berkembang sebagaimana yang diharapkan. Sementara itu potensi pariwisata atau objek-objek wisata belum dikelola secara maksimal dalam menunjang perekonomian masyarakat di Kawasan Perbatasan.
5. Bidang Politik dan Keamanan
Akibat dari adanya permasalahan di bidang ekonomi seperti tersebut di atas, secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada kehidupan di bidang politik. Misalnya masyarakat di Kawasan Perbatasan lebih mengetahui dan mengenal pemimpin atau pejabat di negara tetangga Malaysia dibandingkan dengan di negara sendiri, ataupun cenderung lebih sering menggunakan mata uang negara tetangga dari pada mata uang sendiri. Selain itu stabilitas dan keamanan di Kawasan Perbatasan sangat rawan. Hal ini mengingat belum jelasnya batas negara, sehingga rawan pencurian sumber daya alam, penyelundupan barang-barang maupun keluar masuknya tenaga kerja ilegal, masuknya budaya asing yang kurang sesuai dengan nilai dan adat istiadat maupun agama, sehingga berpengaruh dan /atau mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat baik lahir maupun bathin.
6. Bidang Kesehatan
Masyarakat di Kawasan Perbatasan masih mengalami tingkat/derajat kesehatan yang rendah. Kondisi kehidupan masyarakat khususnya anak-anak yang mengalami kekurangan gizi dan lingkungan pemukiman yang kurang sehat. Selain itu sarana dan prasarana atau fasilitas penunjang kesehatan masyarakat kurang memadai dan terbatasnya tenaga kesehatan baik kualitas maupun kuantitasnya.
|